Thursday, February 14, 2008
Tribun Timur, Makassar, dan tribun-timur.com, Saling Mematikan?
Kamis, 14-02-2008
Inovasi Media Sebagai Keharusan
Opini Tribun
Oleh: Aswar Hasan, Ketua KPID Sulsel
Pada tahun 1990 Bill Gates meramalkan, 10 tahun lagi (tahun 2000) surat kabar tercetak akan mati. Tetapi setelah sepuluh tahun berselang, pendiri Microsoft tersebut, kembali merevisi prediksinya, kemungkinan sekitar 50 tahun lagi ke depan, ramalannya akan mewujud.
Masyarakat akan terbiasa dengan electronic paper dan perlahan tapi pasti surat kabar tercetak akan ditinggalkan.
Sejauh mana realibilitas prediksi Bill Gates tersebut akan terwujud, masih perlu diuji kepastiannya. Paling tidak, prediksi Gates masih perlu dikomprontasikan dengan pandangan teori konvensional yang digulirkan oleh Wolfgang Riefel, selaku pemimpin redaksi Nuernberger Zeitung. Wolfgang Riefel menyatakan, media baru bukanlah pengganti atau subtitusi media lama melainkan merupakan tambahan atau kumulatif.
Ketika sejumlah surat kabar berlomba meluncurkan versi media online dimana versi tercetak di-posting secara online di situs media bersangkutan, sejumlah pengamat media meramalkan, bahwa tidak lama lagi, pelanggan terdidik menengah ke atas akan berhenti berlangganan surat kabar tercetak. Pasalnya, karena apa yang diberitakan di media cetak, sudah dapat diakses seketika, dengan menggunakan ponsel dimana pun dan kapan saja.
Sebagaimana diketahui, teknologi informasi telah membentuk kebiasaan baru masyarakat. Bagi siapa saja yang tidak segera menyesuaikan diri, ia akan tertinggal dan dilupakan. Hukum aksiomatik teknologi berkembang berdasarkan deret ukur, melampaui deret hitung. Jika tidak berani melakukan lompatan penyesuaian, kita akan tertinggal jauh. Demikianlah sifat perubahan dan penetrasi teknologi komunikasi terhadap pola dan gaya hidup dalam pergaulan masyarakat moderen.
Sebagai media yang baru eksis dengan usia relatif masih muda (empat tahun), keputusan meluncurkan media berita versi online melalui portal berita secara real time, dapat dipandang sebagai langkah berani yang penuh tantangan dan risiko. Tantangannya, media online membutuhkan penangan SDM yang faham karakteristik jurnalistik media cyber dengan kesigapan prasyarat antisipasif, khususnya implikasi atas sejumlah masalah cyber law yang sewaktu-waktu bisa bermasalah. Risikonya, Tribun Timur harus bisa mengendalikan diri, jika sewaktu-waktu (di masa datang) terjadi migrasi kebiasaan dari tradisi membaca media cetak menuju kebiasaan baru yang hanya doyan membaca media online, sebagaimana yang diprediksi Bill Gates.
Untuk menelisik bagaimana wujud ramalan-prediksi- antara penggiat media cyber oleh Bill Gates, dan aktifis media cetak yang dipelopori oleh Wolfgang Riefel, penulis tidak akan melihatnya secara vis a vis yang berangkat dari salah satu sudut pandang ekstrem masing-masing pihak. Sangat boleh jadi, beberapa sudut pandang dari mereka berdua, memiliki unsur kekuatan realibilitas (berpeluang menjadi nyata). Bahkan, dari keduanya sangat mungkin mengalami proses sinergisitas dalam wujud mutual simbiosis (berhubungan yang saling menguntungkan).
Setidaknya, sinergisitas kedua sisi pandang tersebut, mulai tampak pada inovasi media cetak Tribun Timur, khususnya ketika berinisiatif meluncurkan portal Tribun-Timur.Com sebagai media online. Menariknya, karena Tribun Timur tidak lagi sekadar memindahkan isi (content) edisi media cetak (print edition) ke media online di portal www. tribun-timur.com. Sejak September 2007, seiring dengan pertumbuhan pesat media cetak Tribun Timur (bertumbuh pesat sekitar 1500 persen) masyarakat luas sudah dapat mengakses berita Tribun Timur secar real time. Jika sebelumnya, berita real time (kejadian aktual) menjadi market leader segenap media siaran, maka saat ini, hal itu sudah terbagi ke media cetak versi online.
Model pemberitaan secara real time melalui media online yang isinya tidak lagi berupa copy paste dari edisi cetak, menjadi menarik secara menantang untuk dicermati ke depan, khususnya terhadap wujud -nasib- media massa cetak sebagaimana ramalan Bill Gates dan Wolfgang Riefel.
Jika saja Tribun Timur sekadar mem-posting isi beritanya di portal media online sebagaimana halnya yang ada di versi media cetak (copy paste), sangat boleh jadi, di masa depan, orang tidak lagi begitu membutuhkan media massa berita versi cetak (media print), akan terjadi migrasi pembaca ke media online, sebagaimana prediksi Bill Gates. Logikanya sederhana, yaitu jika berita yang sama sudah tersedia dan sewaktu-waktu sudah bisa diakses dimana saja, maka untuk apa lagi berlangganan media cetak?
Akan tetapi, jika ketersediaan informasi di media online tampil dengan sifat, bentuk dan dengan isi yang berbeda dari apa yang tersaji di versi media cetak, maka orang akan tetap membutuhkan versi media cetak. Terlebih lagi, jika isi berita dan informasi yang tersaji di versi media online hanya bersifat informatif dini secara aktual, dan masih perlu pendalaman atau investigatisi dari beberapa sudut pandang. Pendalaman atau investigasi kejadian sebagai peristiwa berita yang sudah tertuang di media online tersebut, tentunya masih memerlukan waktu kerja yang cukup. Pada sisi inilah, posisi dan peran media cetak tidak tergantikan. Bahkan, bisa memamfaatkan dan memenangkan situasi atas kebutuhan informasi yang konprehensif dan mendalam dari khalayak pembaca.
Dalam konteks dan perspektif inilah, maka ke depan, Tribun Timur semakin mendesak untuk melakukan sinergisitas isi dan format berita, antara versi media cetak dengan versi media online. Bukan untuk saling mematikan atau berkompetisi, tetapi seyogyanya bisa bersinergi, saling menghidupkan secara siombiosis. Contohnya, jika sebuah berita X yang tersaji di versi media online mendapat respon yang meluas dan positif dari pengakses, -mengingat di media online, respon pengakses dapat diketahui secepatnya, tidak sebagaimana di media cetak- maka untuk edisi media cetak, masalah X tersebut harus mendapat perhatian untuk menjadi pembahasan secara konprehensif dan mendalam.
Dengan demikian, maka paling tidak, khalayak pembaca akan tetap membutuhkan kedua bentuk media tersebut. Maka dalam pada itu, inovasi teknologi informasi di media Tribun Timur untuk saat ini dan kedepan, dalam perspektif prediksi Bill Gates, tidaklah sepenuhnya benar. Di sisi lain, pandangan Wolfgang Riefel, menjadi patut dan relevan untuk dipertimbangkan.
Teknologi Informasi
Dalam catatan HUT Ke- 4 Tribun Timur (9/2-2008) Dahlan, selaku pemimpin redaksi Tribun Timur, menulis, dalam masyarakat yang berubah, ada satu kekuatan yang begitu dahsyat yang mendorong, menciptakan, dan mengarahkan perubahan. Kekuatan dahsyat itu adalah teknologi informasi. Lebih lanjut, Dahlan mengutip pandangan Charles Darwin, bahwa untuk mampu bertahan di era teknologi dengan perubahan yang gencar dan dahsyat itu, dibutuhkan kemampuan penyesuaian diri. Bahwa pada akhirnya, bukan yang kuat yang bertahan hidup (survival), melainkan yang bisa menyesuaikan diri. Terbukti, banyak media besar dan kuat, yang pada akhirnya punah, karena tidak mampu menyesuaikan diri.
Teknologi informasi adalah lokomotif perubahan. Siapa yang tidak mampu mengantisipasinya akan tergilas oleh roda sejarah perubahan. Tidak sedikit persoalan yang ditimbulkan oleh inovasi IT (Teknologi Informasi) tersebut. Maka, perdebatan pun bermunculan. Salah satunya, adalah pandangan yang mempolemikkan, bahwa perkembangan IT seharusnya mempermudah persoalan hidup manusia, bukan justru memperumit kehidupan, dengan menciptakan ketergantungan dan keterjajahan oleh IT. Di tengah polemik tersebut, setidaknya dibutuhnya pemahaman tentang karakteristik dinamika IT itu sendiri, dalam kaitannya dengan eksistensi dan relevansi kebutuhan manusia. Tanpa pemahaman dasar seperti itu, akan sulit mensikapi arus dahsyat perubahan IT yang terus mengejolak di tengah kehidupan kita.
Dalam kajian media, ada tiga pendekatan upaya memahami perkembangan teknologi komunikasi (Wilhelm, 2000). Pertama, pendekatan Dystopian. Kelompok ini, sangat hati-hati dan bersikap kritis tehadap penerapan teknologi komunikasi, sebab dampak yang ditimbulkan, bisa mengacaukan kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik suatu bangsa. Di antara tokoh pendukung Dystopian, adalah; Edmun Husserl, Heidegger, dan Hanna Arendt.
Pandangan kedua, berasal dari kaum Neo Futuris. Kelompok ini, didukung oleh John Naisbitt, Alvin Toffler, dan nicholas Negroponte. Mereka berpandangan, bahwa kehadiran IT harus diterima sebagai bentuk kemajuan dan kreativitas manusia. Mereka menolak kaum Dystopian yang lebih banyak bernostalgia dan menganggap kemajuan teknologi yang tidak terkontrol, bisa mengancam eksistensi manusia.
Salah seorang tokoh Neo Futuris, Alvin Toffler, mengatakan, bahwa daripada berjuang sia-sia untuk membatasi percepatan ritme kehidupan kontemporer (kehidupan moderen berdasarkan teknologi), maka yang mendesak, adalah kita seharusnya berupaya terus menerus memperbaiki dan berpikir ulang mengenai tujuan sosial kita, dari sudut perubahan yang revolusioner. Dampak dari ketidaksiapan menghadapi perubahan dan kemajuan teknologi tersebut, adalah terjadinya goncangan masa depan (future Shock). Olehnya itu, kata Toffler, dari pada memunculkan pemberontakan melawan masa depan, maka harus sejak sekarang, mulai mengantisipasinya dengan mendesain masa depan itu sendiri.
Pandangan ketiga, menamakan diri sebagai Teknorealis. Faham ini, bertujuan untuk menjadi juru damai antara pandangan Dystopian dan Neo Futuris dalam hal penerapan teknologi komunikasi dan dampaknya dalam kehidupan masyarakat. Teknorealis berpendapat, bahwa teknologi tidaklah netral, dimana misalnya, temuan dan dampak internet adalah revolusioner, membawa perubahan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, dan hal itu bukan utopia, tetapi sebuah kenyataan yang harus dihadapi. Mereka menyadari, bahwa saat ini telah terjadi ironi kemajuan IT yang banyak berakhir dengan memperalat manusia dalam kehidupannya. Padahal awalnya, IT dimaksudkan sebagai alat mengontrol ruang dan waktu bagi kepentingan manusia. Bukan justeru sebaliknya. Kelompok Teknorealis banyak dipelopori oleh kaum profesional, termasuk sejumlah jurnalis dan akademisi yang bergerak dalam kajian teknologi media.
Pada akhirnya, kita pun harus bertanya. Model perubahan dengan cara pandang yang mana akan dilakukan oleh media Tribun Timur? Kita tunggu hasilnya. (***)
Surat Kabar, Tribun Timur Makassar Edisi Cetak vs tribun-timur.com
http://www.tribun-timur.com/view.php?id=63935&jenis=Opini
Kamis, 14-02-2008
Inovasi Media Sebagai Keharusan
Opini Tribun
Oleh: Aswar Hasan, Ketua KPID Sulsel
Pada tahun 1990 Bill Gates meramalkan, 10 tahun lagi (tahun 2000) surat kabar tercetak akan mati. Tetapi setelah sepuluh tahun berselang, pendiri Microsoft tersebut, kembali merevisi prediksinya, kemungkinan sekitar 50 tahun lagi ke depan, ramalannya akan mewujud.
Masyarakat akan terbiasa dengan electronic paper dan perlahan tapi pasti surat kabar tercetak akan ditinggalkan.
Sejauh mana realibilitas prediksi Bill Gates tersebut akan terwujud, masih perlu diuji kepastiannya. Paling tidak, prediksi Gates masih perlu dikomprontasikan dengan pandangan teori konvensional yang digulirkan oleh Wolfgang Riefel, selaku pemimpin redaksi Nuernberger Zeitung. Wolfgang Riefel menyatakan, media baru bukanlah pengganti atau subtitusi media lama melainkan merupakan tambahan atau kumulatif.
Ketika sejumlah surat kabar berlomba meluncurkan versi media online dimana versi tercetak di-posting secara online di situs media bersangkutan, sejumlah pengamat media meramalkan, bahwa tidak lama lagi, pelanggan terdidik menengah ke atas akan berhenti berlangganan surat kabar tercetak. Pasalnya, karena apa yang diberitakan di media cetak, sudah dapat diakses seketika, dengan menggunakan ponsel dimana pun dan kapan saja.
Sebagaimana diketahui, teknologi informasi telah membentuk kebiasaan baru masyarakat. Bagi siapa saja yang tidak segera menyesuaikan diri, ia akan tertinggal dan dilupakan. Hukum aksiomatik teknologi berkembang berdasarkan deret ukur, melampaui deret hitung. Jika tidak berani melakukan lompatan penyesuaian, kita akan tertinggal jauh. Demikianlah sifat perubahan dan penetrasi teknologi komunikasi terhadap pola dan gaya hidup dalam pergaulan masyarakat moderen.
Sebagai media yang baru eksis dengan usia relatif masih muda (empat tahun), keputusan meluncurkan media berita versi online melalui portal berita secara real time, dapat dipandang sebagai langkah berani yang penuh tantangan dan risiko. Tantangannya, media online membutuhkan penangan SDM yang faham karakteristik jurnalistik media cyber dengan kesigapan prasyarat antisipasif, khususnya implikasi atas sejumlah masalah cyber law yang sewaktu-waktu bisa bermasalah. Risikonya, Tribun Timur harus bisa mengendalikan diri, jika sewaktu-waktu (di masa datang) terjadi migrasi kebiasaan dari tradisi membaca media cetak menuju kebiasaan baru yang hanya doyan membaca media online, sebagaimana yang diprediksi Bill Gates.
Untuk menelisik bagaimana wujud ramalan-prediksi- antara penggiat media cyber oleh Bill Gates, dan aktifis media cetak yang dipelopori oleh Wolfgang Riefel, penulis tidak akan melihatnya secara vis a vis yang berangkat dari salah satu sudut pandang ekstrem masing-masing pihak. Sangat boleh jadi, beberapa sudut pandang dari mereka berdua, memiliki unsur kekuatan realibilitas (berpeluang menjadi nyata). Bahkan, dari keduanya sangat mungkin mengalami proses sinergisitas dalam wujud mutual simbiosis (berhubungan yang saling menguntungkan).
Setidaknya, sinergisitas kedua sisi pandang tersebut, mulai tampak pada inovasi media cetak Tribun Timur, khususnya ketika berinisiatif meluncurkan portal Tribun-Timur.Com sebagai media online. Menariknya, karena Tribun Timur tidak lagi sekadar memindahkan isi (content) edisi media cetak (print edition) ke media online di portal www. tribun-timur.com. Sejak September 2007, seiring dengan pertumbuhan pesat media cetak Tribun Timur (bertumbuh pesat sekitar 1500 persen) masyarakat luas sudah dapat mengakses berita Tribun Timur secar real time. Jika sebelumnya, berita real time (kejadian aktual) menjadi market leader segenap media siaran, maka saat ini, hal itu sudah terbagi ke media cetak versi online.
Model pemberitaan secara real time melalui media online yang isinya tidak lagi berupa copy paste dari edisi cetak, menjadi menarik secara menantang untuk dicermati ke depan, khususnya terhadap wujud -nasib- media massa cetak sebagaimana ramalan Bill Gates dan Wolfgang Riefel.
Jika saja Tribun Timur sekadar mem-posting isi beritanya di portal media online sebagaimana halnya yang ada di versi media cetak (copy paste), sangat boleh jadi, di masa depan, orang tidak lagi begitu membutuhkan media massa berita versi cetak (media print), akan terjadi migrasi pembaca ke media online, sebagaimana prediksi Bill Gates. Logikanya sederhana, yaitu jika berita yang sama sudah tersedia dan sewaktu-waktu sudah bisa diakses dimana saja, maka untuk apa lagi berlangganan media cetak?
Akan tetapi, jika ketersediaan informasi di media online tampil dengan sifat, bentuk dan dengan isi yang berbeda dari apa yang tersaji di versi media cetak, maka orang akan tetap membutuhkan versi media cetak. Terlebih lagi, jika isi berita dan informasi yang tersaji di versi media online hanya bersifat informatif dini secara aktual, dan masih perlu pendalaman atau investigatisi dari beberapa sudut pandang. Pendalaman atau investigasi kejadian sebagai peristiwa berita yang sudah tertuang di media online tersebut, tentunya masih memerlukan waktu kerja yang cukup. Pada sisi inilah, posisi dan peran media cetak tidak tergantikan. Bahkan, bisa memamfaatkan dan memenangkan situasi atas kebutuhan informasi yang konprehensif dan mendalam dari khalayak pembaca.
Dalam konteks dan perspektif inilah, maka ke depan, Tribun Timur semakin mendesak untuk melakukan sinergisitas isi dan format berita, antara versi media cetak dengan versi media online. Bukan untuk saling mematikan atau berkompetisi, tetapi seyogyanya bisa bersinergi, saling menghidupkan secara siombiosis. Contohnya, jika sebuah berita X yang tersaji di versi media online mendapat respon yang meluas dan positif dari pengakses, -mengingat di media online, respon pengakses dapat diketahui secepatnya, tidak sebagaimana di media cetak- maka untuk edisi media cetak, masalah X tersebut harus mendapat perhatian untuk menjadi pembahasan secara konprehensif dan mendalam.
Dengan demikian, maka paling tidak, khalayak pembaca akan tetap membutuhkan kedua bentuk media tersebut. Maka dalam pada itu, inovasi teknologi informasi di media Tribun Timur untuk saat ini dan kedepan, dalam perspektif prediksi Bill Gates, tidaklah sepenuhnya benar. Di sisi lain, pandangan Wolfgang Riefel, menjadi patut dan relevan untuk dipertimbangkan.
Teknologi Informasi
Dalam catatan HUT Ke- 4 Tribun Timur (9/2-2008) Dahlan, selaku pemimpin redaksi Tribun Timur, menulis, dalam masyarakat yang berubah, ada satu kekuatan yang begitu dahsyat yang mendorong, menciptakan, dan mengarahkan perubahan. Kekuatan dahsyat itu adalah teknologi informasi. Lebih lanjut, Dahlan mengutip pandangan Charles Darwin, bahwa untuk mampu bertahan di era teknologi dengan perubahan yang gencar dan dahsyat itu, dibutuhkan kemampuan penyesuaian diri. Bahwa pada akhirnya, bukan yang kuat yang bertahan hidup (survival), melainkan yang bisa menyesuaikan diri. Terbukti, banyak media besar dan kuat, yang pada akhirnya punah, karena tidak mampu menyesuaikan diri.
Teknologi informasi adalah lokomotif perubahan. Siapa yang tidak mampu mengantisipasinya akan tergilas oleh roda sejarah perubahan. Tidak sedikit persoalan yang ditimbulkan oleh inovasi IT (Teknologi Informasi) tersebut. Maka, perdebatan pun bermunculan. Salah satunya, adalah pandangan yang mempolemikkan, bahwa perkembangan IT seharusnya mempermudah persoalan hidup manusia, bukan justru memperumit kehidupan, dengan menciptakan ketergantungan dan keterjajahan oleh IT. Di tengah polemik tersebut, setidaknya dibutuhnya pemahaman tentang karakteristik dinamika IT itu sendiri, dalam kaitannya dengan eksistensi dan relevansi kebutuhan manusia. Tanpa pemahaman dasar seperti itu, akan sulit mensikapi arus dahsyat perubahan IT yang terus mengejolak di tengah kehidupan kita.
Dalam kajian media, ada tiga pendekatan upaya memahami perkembangan teknologi komunikasi (Wilhelm, 2000). Pertama, pendekatan Dystopian. Kelompok ini, sangat hati-hati dan bersikap kritis tehadap penerapan teknologi komunikasi, sebab dampak yang ditimbulkan, bisa mengacaukan kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik suatu bangsa. Di antara tokoh pendukung Dystopian, adalah; Edmun Husserl, Heidegger, dan Hanna Arendt.
Pandangan kedua, berasal dari kaum Neo Futuris. Kelompok ini, didukung oleh John Naisbitt, Alvin Toffler, dan nicholas Negroponte. Mereka berpandangan, bahwa kehadiran IT harus diterima sebagai bentuk kemajuan dan kreativitas manusia. Mereka menolak kaum Dystopian yang lebih banyak bernostalgia dan menganggap kemajuan teknologi yang tidak terkontrol, bisa mengancam eksistensi manusia.
Salah seorang tokoh Neo Futuris, Alvin Toffler, mengatakan, bahwa daripada berjuang sia-sia untuk membatasi percepatan ritme kehidupan kontemporer (kehidupan moderen berdasarkan teknologi), maka yang mendesak, adalah kita seharusnya berupaya terus menerus memperbaiki dan berpikir ulang mengenai tujuan sosial kita, dari sudut perubahan yang revolusioner. Dampak dari ketidaksiapan menghadapi perubahan dan kemajuan teknologi tersebut, adalah terjadinya goncangan masa depan (future Shock). Olehnya itu, kata Toffler, dari pada memunculkan pemberontakan melawan masa depan, maka harus sejak sekarang, mulai mengantisipasinya dengan mendesain masa depan itu sendiri.
Pandangan ketiga, menamakan diri sebagai Teknorealis. Faham ini, bertujuan untuk menjadi juru damai antara pandangan Dystopian dan Neo Futuris dalam hal penerapan teknologi komunikasi dan dampaknya dalam kehidupan masyarakat. Teknorealis berpendapat, bahwa teknologi tidaklah netral, dimana misalnya, temuan dan dampak internet adalah revolusioner, membawa perubahan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, dan hal itu bukan utopia, tetapi sebuah kenyataan yang harus dihadapi. Mereka menyadari, bahwa saat ini telah terjadi ironi kemajuan IT yang banyak berakhir dengan memperalat manusia dalam kehidupannya. Padahal awalnya, IT dimaksudkan sebagai alat mengontrol ruang dan waktu bagi kepentingan manusia. Bukan justeru sebaliknya. Kelompok Teknorealis banyak dipelopori oleh kaum profesional, termasuk sejumlah jurnalis dan akademisi yang bergerak dalam kajian teknologi media.
Pada akhirnya, kita pun harus bertanya. Model perubahan dengan cara pandang yang mana akan dilakukan oleh media Tribun Timur? Kita tunggu hasilnya. (***)
Saturday, January 19, 2008
Tribun Timur, Pemimpin Baru
Ini menjelaskan tentang bagaimana Tribun Timur melihat dirinya, melihat masyarakat, dan bagaimana visinya.
http://www.tribun-timur.com/profil.php
Tanggal 9 Februari 2004, setelah lama ditunggu-tunggu, Tribun Timur terbit untuk pertama kalinya di Sulawesi Selatan. Tanggal 9 Februari 2007, kami merayakan secara sederhana acara ulang tahun yang ketiga.
Tribun Timur adalah satu dari sembilan kelompok koran daerah yang dikelola PT Indopersda Primamedia, divisi koran daerah Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Di Makassar, KKG bekerja sama dengan Bosowa Group untuk mendirikan Tribun Timur.
Sebelum terbit, muncul keraguan, bagaimana bisa bertahan untuk sekadar hidup di “kandang macan”. Di sini, sebelum kami datang, ada koran yang sudah terbit hampir tiga dekade dengan merek yang begitu kuat. Dengan produk yang begitu beragam.
Tiga tahun kemudian, semua keraguan itu terjawab. Tribun, yang hadir dengan konsep liputan dan gaya penyajian yang khas, ternyata mampu melakukan penetrasi pasar dengan cepat. Lebih cepat dari yang kami perkirakan.
Tribun mampu hidup, bahkan berkembang sangat baik, justru di “kandang macan”. Menurut survei terpercaya pada tujuh kuartal berturut-turut sejak 2005 sampai kuartal ketiga 2006 menunjukkan, readership Tribun tumbuh 180 persen, angka yang jarang dicapai koran-koran lain di Indonesia.
***
SEBELUM kami datang ke Makassar , kami melihat tumbuhnya suatu kelompok masyarakat yang jumlahnya sangat besar. Kelompok masyarakat itu diberi nama civil society oleh para ahli sosiologi. Kalangan bisnis menyebutnya kaum professional.
Ciri utama kelompok ini adalah well educated, memiliki daya beli tinggi, memiliki skill yang tinggi, gaya hidupnya metropolis, tinggal di kota . Sebagian dari mereka membangun keluarga muda.
Keluarga-keluarga muda itu tumbuh karena keberhasilan melakukan mobilisasi vertikal dengan bekal pendidikan yang baik. Mereka bergerak di sektor modern.
Tentu saja, kelompok masyarakat baru ini tidak bisa lagi dilayani dengan cara-cara kerja jurnalisme jaman dulu. Kaum profesional menikmati isi berita yang berbeda, juga mengharapkan cara penyajian yang berbeda.
Mereka juga ingin diakui, didengar suaranya secara politik, karena merekalah pembayar pajak yang tinggi. Dengan pajak yang mereka bayar, politisi dan pejabat pemerintah menikmati gaji. Karena itu, civil society membutuhkan pemerintah untuk mengelola masyarakat dengan baik. Itulah yang kami sebut sebagai public services.
Kami membuka satu halaman public services. Inilah salah satu rubrik paling sukses di Tribun. Lebih 100 SMS setiap hari masuk ke nomor hotline kami. Semuanya berkaitan dengan tema-tema yang akrab dengan masyarakat profesional: selular, health, perbankan, pelayanan listrik, telepon, air bersih, dan seterusnya.
Pendekatan ini ternyata mampu mendorong Tribun untuk melewati tahap-tahapan paling krusial dari perkembangan surat kabar dengan mulus dan cepat: dari mula-mula diminati pembaca, dibeli secara eceran, lalu berlangganan. Lebih dari 60 persen pembaca Tribun saat ini adalah pelanggan. Mereka itu adalah keluarga metropolis dengan ciri yang kuat sebagai civil society atau kaum professional.
Dengan melayani masyarakat kaum professional, Tribun mendorong Kota Makassar tumbuh menjadi kota modern. Karena, kami yakini, demikian itulah harapan kaum professional dan keluarga metropolis. Mereka menginginkan kota yang nyaman, aman, lengkap dengan fasilitas leisur, dan iklim bisnis yang kondusif.
Itulah yang menjelaskan, mengapa Tribun mendorong pembangunan ikon kota seperti peremajaan Pantai Losari. Pembangunan pedestrian. Penggunaan lajur kiri bagi kendaraan bermotor. Busway.
Kami senang ada yang mengikuti kami. Visi besar untuk membangun masyarakat seharusnya menjadi visi semua media massa .
***
Pada ulang tahun yang Tribun yang ketiga, kami ingin mendeklarasikan satu tahapan penting perkembangan Tribun. Koran ini sudah melewati tahapan menarik perhatian pembaca, dibeli secara eceran, dan berlangganan. Lebih dari itu, Tribun telah mampu memerankan diri sebagai salah satu pemimpin baru, yang memimpin opini dan pengaruh, dalam masyarakat.
Surat kabar adalah institusi bisnis. Tapi dia sukses tidak semata karena bisnis. Dia sukses justru karena surat kabar memiliki pengaruh. Karena itu, surat kabar sesungguhnya adalah pabrik yang menjual pengaruh.
Komoditi atau mata dagangan surat kabar adalah kata-kata. Namun tidak semua kata-kata laku dijual, kecuali kata-kata yang bisa dipercaya.
Tidaklah gampang menghasilkan kata-kata yang bisa dipercaya:
- Kata-kata yang dipercaya hanya lahir dari pena wartawan yang secara moral tidak mengharapkan apalagi menerima imbalan saat meliput berita
- Kata-kata yang bisa dipercaya hanya lahir dari pena wartawan yang secara politik tidak memihak
- Kata-kata yang bisa dipercaya hanya lahir dari pena wartawan yang secara professional kompeten dan kapabel.
Dengan bekal itu, Tribun tumbuh secara cepat di bidang bisnis maupun kepemimpinan di bidang jurnalistik maupun public opinion.
“Kandang macan” rupanya tidak mampu mengubah Tribun menjadi macan. Sebaliknya, Tribun mampu mengubah ”macan” menjadi ke “Tribun-tribunan”. Edisi Superball, yang tadinya menjadi ciri khas Tribun, kini mulai diadopsi koran lain.
Grafis Tribun, gaya pemberitaannya, model layoutnya, diikuti. Itulah kepemimpinan baru di bidang jurnalistik, yang tidak pernah ada sebelumnya. Itulah pengaruh.
Tribun hadir memaksa pemain lain di bisnis surat kabar untuk mengubah strategi bisnis secara mendasar. Yang ada sekarang adalah koran umum, seperti Tribun. Ada yang seperti warna Tribun. Seperti perfoma Tribun dari sisi layout. Beberapa arsitektur halaman, seperti model pull out dan indexing page, bahkan mirip-mirip Tribun.
Apakah meniru haram dalam bisnis surat kabar? Tidak. Silakan meniru sebab bisnis surat kabar adalah bisnis di panggung terbuka. Seperti halnya model rambut artis yang bisa ditiru secara bebas, demikianlah itu Tribun. Silakan tiru. Itu semakin memperkuat kepemimpinan Tribun. Memperkokoh pengaruh Tribun. Itu semakin menunjukkan bahwa Tribun adalah pemimpin baru di Sulawesi Selatan.
Ada yang usul, kenapa tidak mematenkan Tribun supaya hasil karya jurnalistik ini dilindungi oleh hukum? Jawabannya, kenapa kita mematenkan kebajikan. Biarlah surat kabar berlomba-lomba berkarya untuk kebajikan masyarakat.
Itulah sisi lain surat kabar. Dia butuh kesuksesan di bidang bisnis untuk menjalankan idealisme. Tapi dia juga butuh pengaruh yang kuat, kepemimpinan yang kuat, untuk memperbaiki masyarakat.
***
TANGGAL 9 Februari 2007. Tribun berusia tiga tahun. Sebagaimana fungsi pers sebagai kekuatan keempat demokrasi di luar partai politik, parlemen, dan pemerintah, Tribun ikut mewarnai, bahkan terkadang memberi arah, terhadap pembentukan public opinion. Itulah surat kabar. Kekuatannya tidak hanya diukur secara bisnis, tapi juga pengaruhnya, kepemimpinannya dalam pembentukan public opinion.
Surat kabar membawakan peranannya sebagai penyalur pendapat publik. Kekuatan pendapatan publik itulah yang mempengaruhi pengambilan keputusan politik. Surat kabar membantu rakyat mewujudkan mimpinya dalam demokrasi: bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan.
Melalui kesempatan ini, kami ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada para anggota DPRD di Sulawesi Selatan.
Dulu ada rencana pengadaan 75 laptop bagi anggota dewan senilai Rp 975 juta. Ada juga rencana pengadaan mobil Kijang Innova senilai Rp 14,2 miliar. Semua itu batal. Masyarakat menyampaikan isi hatinya melalui berita dan hotline Public Services Tribun. Dan, akhirnya, mereka menang.
Teman-teman aktivis memberikan ucapan selamat kepada Tribun setelah rencana pengadaan laptop dan Innova itu dibatalkan. Saya bilang, Tribun tidak pantas berpesta karena itu bukan kemenangan Tribun. Tanpa pembaca, Tribun bukanlah siapa-siapa. Itu adalah kemenangan civil society.
Itu adalah kemenangan masyarakat yang percaya kepada Tribun sebagai kekuatan sosial baru yang tidak mengharapkan pamrih politik. Mereka percaya bahwa Tribun adalah kekuatan moral yang dibangun kaum profesional, civilized people.
Kami percaya bahwa pengaruh dan kepemimpinan pers dibangun bukan dengan tekanan, apalagi intimidasi. Pengaruh dan kepemimpinan pers dibangun berdasarkan kepercayaan pembaca.
Kami berterima kasih kepada pembaca yang mempercayai kata-kata Tribun. Kami berterima kasih kepada pembaca yang memberikan pengaruh dan membangun kepemimpinan Tribun.
Karena itu, pada hari ulang tahun ketiga Tribun Timur, perkenankan kami mengukuhkan identitas baru kami: Tribun Timur, Pemimpin Baru. ***